HAKEKAT CINTA “ IBU “

Akhir – akhir ini media massa dan elektronik gencar memberitakan tentang perilaku ibu terhadap anaknya, data menyebutkan dalam dua tahun terakhir kasus pembunuhan ibu terhadap anak terjadi tiga kali di Jawa. Pada Juni 2006, Ny. Anik Qori’ah, membunuh tiga anak kandungnya. Dia membunuh karena tekanan ekonomi. Pada Maret 2008, Ismawati, warga kota Bekasi, membunuh dua dari tiga anaknya dengan cara membenamkan ke dalam bak mandi juga karena tekanan ekonomi. Di bulan yang sama, Maret 2008, di Pekalongan, Ibu dan 2 bayi bunuh diri yang sampai sekarang belum diketahui sebab permasalahannya. Selain pembunuhan, terjadi juga kasus jual – beli bayi yang masih di kandungan bertarif Rp 1,5 juta – 5 juta.

Data di atas merupakan data perilaku ibu terhadap anaknya namun sebaliknya ada juga data perilaku anak terhadap orang tuanya, masih di Maret 2008, terjadi di Surabaya, sekeluarga (suami, istri dan anak) bersekongkol membunuh orang tuanya sendiri hanya karena harta. Di awal April 2008, di Depok, kita dikejutkan dengan kaburnya anak gara-gara tidak mengerjakan PR dengan membawa uang 92 juta.

Fenomena di atas terjadi karena beberapa faktor, diantaranya adalah sebagai akibat rapuhnya kondisi psikologis seseorang. Selain itu pola asuh juga berperan, Mendidik anak di zaman serba kompleks nilai macam sekarang memang gampang-gampang susah. Ditangani dengan tangan besi, bisa-bisa ngambek. Kalau serba boleh, anak jadi manja dan semau gue.

Ketika seorang anak dipaksa untuk melakukan perbuatan yang sesuai dengan keinginan orang tua dan dengan cara yang dikehendaki olah orang tua maka anak akan kembali menuntut orang tuanya untuk memberikan perhatian atau pujian kepadanya. Sebaliknya jika anak tidak dapat memenuhi tuntutan orang tuanya maka dia akan merasa hidupnya tidak berharga maka dia akan menarik dirinya dari kehidupan.

Pada saat orang tua menghukum anak karena anak tidak mematuhi keinginannya maka anak akan belajar untuk mencari kekuasaan karena dia merasakan bahwa karena dia tidak memiliki kekuasaanlah dia jadi terhina, jika dia tidak mendapatkan kekuasaan tersebut maka dia akan menanti-nanti saat yang tepat baginya untuk membalasi semua perilaku tak enak yang dia terima selama ini.

Jika sudah terjadi situasi seperti ini, hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah memahami peranan sebagai orang tua. Orang tua , bapak atau ibu keduanya memegang peran penting bagi anak, namun yang berkembang sampai saat ini untuk urusan anak jatuhnya hanya kepada ”ibu”.

Coba perhatikan saja betapa ibu lebih peduli dengan tetek-bengek sehari-hari. Mulai dari soal gosok gigi, ganti baju, menaruh sepatu di rak, kemudian makan sepulang sekolah. Jadi, ibulah yang lebih banyak peranannya dalam menanamkan segala tindakan yang nyata sehari-hari, termasuk juga cuci tangan sebelum makan, cuci kaki sebelum tidur, dan kebiasaan lain.

Kalau kebiasaan-kebiasaan yang baik seperti gosok gigi, cuci tangan sebelum makan, cuci kaki sebelum tidur terus-menerus ditanamkan lama-kelamaan akan terbentuk sifat bersih. Sifat ini akan melekat, bahkan bisa menjadi aktif dalam bentuk mengoreksi atau paling tidak mempertanyakan mengapa orang lain tidak melakukan hal seperti dia dalam soal kebersihan.

Bagaimana besarnya peranan ibu, kita ambil contoh kesuksesan negara Jepang. sukses Negeri Sakura itu adalah sukses anak-anak di bawah didikan ibu Jepang yang amat peduli pada pendidikan anak. Kaum ibu di Jepang bukan hanya sibuk di dapur, tetapi mereka juga aktif terlibat dalam proses pendidikan anak-anaknya. Demikian besar pelibatan diri ibu di Jepang sampai-sampai mereka rela tidak menonton TV. Tetapi justru ikut bersekolah pada “sekolah untuk ibu”, membantu pekerjaan rumah anaknya, dan bila diperlukan mencari pekerjaan paruh waktu untuk membiayai les tambahan anaknya. Ibu yang seperti ini di sana dijuluki sebagai kayoiku mama, ibu pendidik.

Untaian renungan kata dari Dorothy Law Notle di bawah ini mari kita renungi bersama-sama,

“Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki”

“Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi”

“Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah”

“Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri”

“Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri”

“Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar dengki”

“Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah”

“Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri”

“Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri”

“Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai”

“Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai”

“Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri”

“Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan”

“Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar dermawan”

“Jika anak dibesarkan dengan jujur dan terbuka, ia belajar benar dan adil”

“Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan”

“Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan”

“Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran”

By : Azizah, S. Pd.I
Kepala PG TK

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s