Siswa TK Raudlatul Jannah Belajar Membuat Jamu Tradisional

Tingkatkan Daya Tahan Tubuh, Antisipasi Cuaca Ekstrim

Ratusan siswa TK Islam Raudlatul Jannah, Pepelegi, Kecamatan Waru, Sidoarjo, dikenalkan dengan aneka minuman tradisional berikut cara pembuatannya. Selama kegiatan berlangsung mereka pun berpakaian ala warga pedesaan.

Sidoarjo – PAGI kemarin (30/9) ada pemandangan berbeda di halaman TK Raudlatul Jannah. Terlihat gubuk-gubuk bambu beratap daun yang kondisinya mirip pasar tradisional. Seluruh siswa dan guru berbusana ala warga pedesaan. Para guru dan siswa perempuan mengenakan tutup kepala dari selendang, sementara prianya berselempang sarung. Hari itu para siswa memang sengaja dikenalkan dan diajari cara membuat jamu tradisional dari Jawa.

Setelah jamu buatan mereka jadi, para siswa itu bisa langsung mencicipinya. Aneka jamu yang dikenalkan kepada para siswa itu antara lain beras kencur, kunyit asam, sinom, dan uyup-uyup atau gepyokan. “Mengenal dan membuat jamu ini sesungguhnya bagian dari belajar menjaga diri sendiri. Ini sekaligus sebagai kegiatan tutup tema pembelajaran pertama sekolah TK Islam Raudlatul Jannah, yakni tentang ourselves (diri sendiri, red),” ujar Kepala Sekolah TK Raudlatul Jannah, Azizah.

Tema belajar membuat jamu sengaja dipilih sebagai wujud aplikasi dari prestasi yang diraih kepala sekolah Raudlatul Jannah sebagai pemenang ke-4 dalam ‘Lomba Kepala Sekolah Berprestasi’ tingkat nasional tahun 2010. Lomba itu digelar Kementerian Pendidikan Nasional, Agustus lalu. “Kegiatan ini sekaligus bagian dari upaya mewujudkan pendidikan berkarakter dan berwawasan lingkungan. Kami ingin mengajarkan pada anakanak bagaimana menghadapi cuaca ekstrim akibat anomali iklim yang terjadi akhir-akhir ini,” terangnya.

Di bulan-bulan ini, meski sudah memasuki musim kemarau, namun masih kerap ada hujan. Penyimpangan cuaca ini juga mengakibatkan terjadinya suhu ekstrim, siang hari sangat panas dan malamnya sangat dingin. Kondisi itu, terang Azizah, sangat berpengaruh buruk bagi kondisi tubuh manusia, utamanya anak-anak. “Adanya kondisi cuaca ekstrim akibat anomali iklim itu perlu dikenalkan sejak dini pada siswa. Agar mereka bisa mengerti, selanjutya dapat mengantisipasi. Salah satunya dengan mimun jamu untuk menambah daya tahan tubuh,” tegasnya.

Kegiatan bertajuk ‘Belajar Menjaga Kesehatan Diri Sendiri dengan Minum Jamu’ itu diikuti 178 siswa dengan antusias. Mereka bergiliran mencoba secara langsung proses pembuatan jamu. Mulai dari memilih bahan empon-empon, mengupas dan membersihkan kulitnya, menumbuk hingga memeras untuk mengambil sarinya. Setelah jadi, siswa dapat mencicipi jamu yang telah mereka buat sendiri. “Ini rasanya asem, namanya minuman asem,” celetuk Angga, siswa TK B, setelah mencicipi jamu kunyit asam.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s